Kontroversi kematian yesus di kayu salib
Pada hari minggu pertama setelah penyaliban terjadi, Kitab Yohanes 20:13 menggambarkan betapa seorang wanita muda pengikut Nabi ‘Isa al-Masih bernama Maria Magdalena, yang pernah mengurapi diri Nabi ‘Isa (Baca: Kitab Yohanes 12:3 dan Lukas 7:38), dan salah seorang dari mereka yang menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana sosok Nabi ‘Isa al-Masih telah disalib dan dikuburkan (Baca: Markus 15:40-41 dan Markus 15:47) sekaligus juga sebagai wanita yang pernah disembuhkan oleh ‘Isa dari tujuh setan (Baca: Lukas 8:2) telah mendatangi kuburan dimana jasad ‘Isa al-Masih disemayamkan.
Disana menurut Bible Yohanes, Maria Magdalena bertemu dengan dua orang malaikat namun ia sendiri tidak menjumpai sosok ‘Isa al-Masih sebagaimana yang ia kenali dan wanita ini telah mengira bahwa ‘Isa al-Masih yang berdiri dihadapannya dalam keadaan hidup itu sebagai seorang tukang kebun sampai akhirnya Nabi ‘Isa memutuskan untuk menegur Maria Magdalena dan dikenali olehnya sebagai orang yang memang dicari-carinya.
20:12
dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
20:13
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
20:14
Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
20:15
Kata Yesus kepadanya: /”Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?”* Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”
20:16
Kata Yesus kepadanya: /”Maria!”* Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.
20:17
Kata Yesus kepadanya: /”Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”
*
Apakah bukan satu keanehan bilamana Maria Magdalena telah mengira sosok Nabi ‘Isa itu sebagai penunggu taman alias The Gardener ? Kita katakan saja pada waktu itu Nabi ‘Isa sedang melakukan penyamaran sedemikian rupa sampai Maria Magdalena tidak lagi mengenalinya namun sebelum ‘Isa memanggil nama Maria, beliau telah sempat berbicara dengannya dan tampaknya Maria tetap tidak mengenali sosok Nabi agung ini dihadapannya.
Penolakan yang dilontarkan oleh Nabi ‘Isa untuk disentuh oleh Maria Magdalena dalam Yohanes 20:17 menurut hemat saya bukanlah karena saat itu ‘Isa baru saja sembuh dari luka-luka penyaliban, akan tetapi karena memang tidak selayaknya seorang laki-laki muda seperti ‘Isa yang waktu itu baru berusia 33 tahun dipeluk oleh seorang wanita muda seperti Maria Magdalena yang bukan muhrimnya, kecuali jika ‘Isa memang sudah wafat sementara ‘Isa sendiri mengatakan kepada Maria Magdalena bahwa “For I am not yet ascended to my Father”, Bahwa Nabi ‘Isa saat itu belumlah mati dan ruhnya belum naik menghadap Allah.
Akan tetapi, bagaimanapun juga, kisah yang diriwayatkan oleh Yohanes ini sangat berkontradiksi dengan periwayatan yang disampaikan oleh Matius, Markus dan Lukas didalam Injil mereka masing-masing.
Lukas 24 dimulai dari pasal 1 menceritakan bahwa yang datang kemakam ‘Isa al-Masih pada hari minggu itu tidak hanya Maria Magdalena namun juga beberapa orang wanita lainnya menyertainya yaitu Joanna, Maria ibunya Ya’kub serta beberapa perempuan lainnya yang tidak dijelaskan oleh Lukas 24:10 nama-nama mereka satu persatunya; dan Lukas juga tidak menyebutkan bertemunya Maria Magdalena dengan sosok ‘Isa al-Masih, malah kedua malaikat itu banyak sekali berbicara kepada wanita-wanita yang mendatangi kuburan tersebut.
Markus 16 dimulai pasal 1 mengatakan bahwa yang datang pada hari Minggu itu kekuburan ‘Isa al-Masih hanya berjumlah tiga orang, yaitu Maria Magdalena, Maria ibunya Ya’kub dan Salome, selanjutnya dalam ayat ke-9, Markus mencoba mengambil cerita dari Lukas bahwa ‘Isa sudah menemui Maria Magdalena pada hari minggu pertama itu, padahal dalam ayat-ayat sebelumnya telah dijelaskan olehnya sendiri betapa Maria Magdalena sama sekali tidak bertemu dengan ‘Isa al-Masih.
Yang lebih kontroversial lagi, Matius dimulai pasal 28 meriwayatkan bahwa yang datang pada hari minggu pertama itu adalah Maria Magdalena dan beberapa Maria lainnya yang tidak dijelaskannya Maria apa saja mereka itu, kemudian kedatangan mereka itu bersamaan dengan terjadinya gempa bumi dan turunnya seorang malaikat kemakam tersebut dan menggolekkan batu besar penutup kubur ‘Isa dan mendudukinya.
Perbuatan seorang malaikat ini menyebabkan takutnya beberapa Maria ini, dan sama sekali Matius tidak mengisahkan bahwa wanita-wanita itu melihat isi dalam kuburan ‘Isa al-Masih, mereka hanya baru sampai diluar makam dan belum memasukinya ketika gempa terjadi dan malaikat turun.
Selanjutnya Matius dalam ayat ke-9 menggambarkan bahwa seluruh Maria itu telah ditemui oleh Nabi ‘Isa al-Masih ditengah perjalanannya dan memberikan salam kepada mereka. Dan ini bertentangan dengan kisah periwayatan yang lain, terutama dengan riwayat Yohanes yang menceritakan hanya Maria Magdalena yang bertemu dengan ‘Isa al-Masih.
Bagaimana seluruh kontroversi diatas bisa kita jadikan sandaran untuk meyakinkan bahwa ‘Isa al-Masih merupakan tokoh yang tersalib dan mendekam didalam kuburan selama 3 hari sesuai dengan nubuatan Nabi Yunus yang tidak terbukti itu ?
Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa orang yang tersalib dan dikuburkan itu adalah sosok Nabi ‘Isa al-Masih sementara kisah-kisah yang kita jumpai didalam Bible saling berbeda antara satu dengan yang lainnya ?
Apa kriteria kita untuk menentukan cerita mana yang benar dan sesuai dengan al-Qur’an dan dapat diterima dengan akal serta manapula yang tidak ?
Terlepas dari seluruh kontroversi diatas, kita lihat didalam Yohanes 21:1-4, kembali digambarkan bahwa Nabi ‘Isa telah mendatangi pengikut-pengikutnya yang berada ditasik Tiberias dalam perwujudan yang lain:
21:1
Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2
Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.
21:3
Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
21:4
Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
Dalam riwayat Lukas 24:13-17 dikisahkan bahwa pada hari Minggu tersebut, Nabi ‘Isa al-Masih juga telah menyempatkan diri untuk menemui 2 orang dari 11 sahabat utamanya yang sedang berjalan menuju kampung Emaus sekitar 3 jam jauhnya perjalanan dari kota Yerusalem.
24:13
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
24:14
dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
24:15
Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
24:16
Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
24:17
Yesus berkata kepada mereka: /”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”* ?? Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
24:19
Kata-Nya kepada mereka: /”Apakah itu?”* Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi , yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
24:30
Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
24:31
Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
24:33
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Kita lihat dari cerita Lukas diatas, bahwa para sahabat Nabi ‘Isa sendiri tidak pernah menganggap bahwa ‘Isa adalah bagian dari ketuhanan, mereka hanya menyebut putera Maryam ini sebagai seorang Nabi yang memiliki banyak mukjizat.
Dan kehadiran ‘Isa al-Masih dalam perjalanan mereka itu sama sekali tidak mereka kenali sampai pada akhirnya mereka sadar ketika ‘Isa memberkahi roti dan memecahnya untuk kemudian diberikan kepada mereka.
Bagaimana mungkin kaum Hawariyin ini tidak mengenali sosok manusia yang selama ini senantiasa berada bersama-sama mereka jika tidak pada waktu itu wujud dari Nabi ‘Isa ditampilkan dalam wujud yang lain sama sekali dan tidak bisa mereka kenali ?
Tidak lupa mereka ini telah memberikan gambaran kepada kita, betapa mereka akhirnya mengenali Nabi ‘Isa bukan melalui melihat wujudnya yang asli, tetapi karena Nabi ‘Isa sudah memecah roti, jadi melalui tindakannya dan mereka baru sadar bahwa orang itu adalah ‘Isa al-
Masih yang mereka banggakan. Dan setelah mereka sadar, Nabi ‘Isa kembali melakukan “Transformasi”, menghilang dari hadapan mereka dan menjumpai sahabat-sahabatnya yang lain.
Lukas 24:36 dan Yohanes 20:19 menjelaskan kepada kita bahwa setelah Nabi ‘Isa memperlihatkan dirinya dengan perwujudan lain itu kepada beberapa orang pengikutnya diatas, akhirnya pada senja hari minggu itu, Nabi ‘Isa al-Masih datang kepada kesebelas sahabat utamanya yang sedang duduk makan (lihat: Markus 16:14)
20:19
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: /”Damai sejahtera bagi kamu!”*
24:37
Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: /”Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?*
24:39
/Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”*
24:40
Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41
Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: /”Adakah padamu makanan di sini?”*
24:42
Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43
Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
Kita lihat, adalah suatu keanehan tersendiri, diantara para sahabat yang berkumpul pada senja hari itu sudah ada yang pernah bertemu dengan Nabi ‘Isa pada waktu siang harinya dan mengetahui bahwa ‘Isa al-Masih belumlah wafat dan berada dalam keadaan yang lain, akan tetapi kisah diatas menunjukkan kepada kita betapa para sahabat itu sendiri merasa ketakutan dengan hadirnya sosok ‘Isa al-Masih secara tiba-tiba dan mereka pun tidak mempercayai bahwa sosok orang yang hadir ditengah-tengah mereka saat itu adalah ‘Isa.
Mereka malah mengira ‘Isa al-Masih adalah hantu !
Apa yang menyebabkan mereka mengira sang Nabi agung ini sebagai hantu ?
Apakah karena kemunculannya yang tiba-tiba itu ?
Rasanya tidak, sebab mereka sudah akrab dengan fenomena mukjizat ‘Isa al-Masih, bahkan dua diantara mereka pada minggu siang itu telah menyaksikan betapa Nabi ‘Isa tiba-tiba hilang dari hadapan mereka (Baca lagi riwayat dari Lukas 24:31 diatas.
Mereka digambarkan sangat takjub dan ketakutan serta tidak percaya sebab mereka selama ini berpikir bahwa ‘Isa al-Masih sudah tersalibkan dan wafat, sedangkan mereka sendiri tidak ada yang menjadi saksi mata pada kejadian hari itu sebab keseluruhan dari mereka malah melarikan diri disaat sang Nabi berada dalam keadaan bahaya (Baca: Kitab Markus 14:50).
Bagaimana ini jadinya ?
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah mereka semua saat itu berpikir bahwa ‘Isa sudah wafat dan hantunya datang kepada mereka, untuk membantah pemikiran mereka itu, ‘Isa al-Masih menunjukkan bukti-bukti masih hidupnya beliau selaku manusia biasa, diantaranya memakan sepotong ikan goreng dan minum madu serta menyuruh mereka menyentuh kulit tubuhnya.
Penjelasan yang masuk akal diatas tetap akan berlawanan apabila kita melihat balik kepada ayat-ayat yang menceritakan berita heboh atas hilangnya mayat ‘Isa al-Masih pada pagi minggu itu dan beberapa orang dari mereka justru sudah berjumpa langsung dengan sang Nabi dalam keadaan hidup pada siang harinya.
Dan perkataan mereka: “Kami telah membunuh al-Masih ‘Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi dia disamarkan bagi mereka.
Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya.
(Qs. 4:157)
Yesus tidak mati di kayu salib
(Sebuah jawaban untuk tulisan Mengapa anda perlu percaya Isa ?)
“Dan lantaran perkataan mereka yang mengatakan : sesungguhnya kami telah membunuh Isa Almasih anak Maryam Rasul Allah itu. Padahal sebenarnya mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya (hingga mati), melainkan hanyalah diserupakan saja pada mereka ………” (An – Nisa : 157).
Ketika umat Kristen bertanya kepada kami Muslim, apakah kami Muslim perlu mempercayai Isa ? jawabnya ya kami Muslim percaya kepada Isa. Tetapi ada perbedaan mendasar antara kami Muslim dengan umat Kristen dalam hal kepercayaan tersebut. Kami Muslim percaya bahwa Isa adalah salah satu dari 25 Rasul yang wajib kami imani. Isa diturunkan sebagai rasul kepada Bani Israil (Yahudi), dan diberikan kepadanya mu’jizat antara lain dapat menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak dan dapat pula menghidupkan orang mati, tetapi semua itu atas izin Allah (Ali Imran Ayat 49).
Sedangkan doktrin Kristen menegaskan bahwa Isa Almasih yang oleh umat Kristen biasa disebut Yesus, meninggal di kayu salib dan dengan kematiannya tersebut dapat membebaskan dosa-dosa manusia akibat kesalahan yang telah dilakukan oleh Adam dan Hawa. Itulah mengapa Yesus dikatakan juru selamat dunia.
Konsep penyaliban merupakan landasan dasar keimanan umat Kristen tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus yang berujung kepada pengakuan atas ketuhanan Yesus. Yesus adalah tuhan putra dalam konsep trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Putra dan Roh Kudus).
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah benarkah Yesus disalib ? karena jika Yesus tidak disalib maka sia-sialah iman umat Kristen selama ini. Untuk mendapatkan jawabannya, marilah kita telaah sejarah secara objektif.
Dalam Injil dijelaskan bahwa “Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas” (Yoh 19:14).
Istilah paskah berasal dari bahasa Ibrani dari kata “pesah” yang berarti “melewati”. Menurut perjanjian lama sebenarnya dilaksanakan sebagai peringatan pembebasan bangsa Israel dari bangsa Mesir, yang pada saat itu anak-anak sulung orang mesir dibunuh, tetapi tetapi pintu-pintu rumah orang Ibrani “dilewati”, karena ambang atas dan kedua tiang pintu rumah mereka disapu dengan darah kambing domba (Kel 12: 23 – 28).
Sedangkan dalam perjanjian baru, Yesus lah yang disebut-sebut “anak domba bukit paskah” (1 Kor 5: 7).
Dengan demikian menurut keyakinan Kristen Yesus harus disalib untuk menebus dosa umatnya. Dalam perkembangan selanjutnya gereja mengatakan bahwa paskah adalah hari “Kebangkitan Yesus”.
Dalam persiapan paskah kira-kira jam jam dua belas, Pilatus selaku Gubernur Romawi, memutuskan untuk menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi, agar disalib di bukit Golgota (bukit tengkorak). Maka Yesus dipaksa memanggul salib ke bukit Golgota. Setelah sampai di bukit Golgota (Matius 27:26), kira-kira jam jam tiga sore berserulah Yesus dengan suara nyaring “Eli, Eli lama sabaktani” yang artinya “Tuhanku, Tuhanku mengapa engkau meninggalkan aku ?”.
Hari itu adalah hari persiapan paskah dan besoknya adalah hari Sabat (hari Sabtu), bagi umat Yahudi hari Sabat merupakan hari yang suci dan Tuhan berhenti bekerja pada hari tersebut, sehingga orang Yahudi dilarang bekerja apapun (Kel 20: 8 – 11), termasuk melakukan penyaliban dan orang yang bekerja pada hari itu harus dihukum mati (Kel 31: 12 – 14). Sehingga waktu yang tersisa untuk meyelesaikan penyaliban, sebelum memasuki hari Sabat yaitu tinggal 2,5 – 3,5 jam (pergantian waktu menurut tradisi Yahudi adalah terbenamnya
matahari).
Terdesak oleh waktu dan untuk mempercepat proses kematian orang-orang Yahudi ingin segera memastikan kematian dengan cara “mematahkan kaki”, yaitu meremukkan kaki dengan batas tempurung ke bawah.
“Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib sebab Sabat itu adalah hari yang besar maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”. (Yoh 19: 31).
Tetapi giliran Yesus, para serdadu romawi ternyata tidak mematahkan kakinya, sebab mereka menyangka Yesus telah mati.
“Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya” (Yoh 19: 33).
“Pilatus heran saat mendengar bahwa Yesus sudah mati maka ia memanggil kepada serdadu dan menayakan kepadanya benarkah Yesus sudah mati” (Markus 15: 44).
Benarkah Yesus telah mati di kayu salib, berdasarkan catatan sejarah dan tinjauan sains, umumnya orang yang di salib baru mengalami kematiannya, minimal 2 hari. Kematian tersebut bisa terjadi karena :
-
Infeksi, dipakunya tangan dan kaki pada kayu membuka peluang masuknya kuman kedalam tubuh, dan akan meyebar keseluruh tubuh. Proses kematian karena infeksi akan berlangsung 2 – 3 hari.
-
Kematian di salib terjadi karena kelaparan dan kehausan. Proses ini biasanya berlangsung 6 – 7 hari.
Dengan demikian waktu 1 hari tidaklah cukup untuk membuat Yesus meninggal di kayu salib. Disisi lain karena mengira Yesus sudah mati itulah seorang prajurit menikam lambungnya dengan tombak dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh 19: 34). Mungkinkah orang yang sudah mati mengalirkan darah karena terkena tikaman ?. Penelaahan yang sermat dan objektif terhadap ayat-ayat bibil diatas membuktikan bahwa saat itu Yesus belum meninggal. Ia hanya pingsan dan kondisi pingsan itulah yang dilihat para serdadu sebagai kondisi mati.
Berikut ini adalah penjelasan bibel berkaitan dengan peristiwa-peristiwa setelah Yesus dianggap mati di kayu salib.
“Sesudah itu Yusuf dari Arimatea ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu”. (Yoh 19: 38)
“Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya”. (Yoh 19: 39)
“Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat”. (Yoh 19: 40)
“Yusuf pun membeli kain lenan kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu”. (Markus 19: 46)
“Setelah lewat hari Sabat Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus”. (Markus 16: 1)
Secara kronologis, ayat-ayat di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
-
Hari Jumat sebelum masuk waktu Sabat (sebelum magrib) Yusuf dari Arimatea membawa Yesus kekuburnya.
-
Malam harinya, Nikodemus datang kekubur dengan membawa campuran minyak mur dan gaharu lalu mengkafani Yesus dengan kain kafan.
-
Ahad pagi hari Maria Magdalena dan kawan-kawan membawa rempah-rempah kekubur untuk meminyaki Yesus.
Mengapa Maria Magdalena datang kembali ke kubur untuk meminyaki Yesus padahal sebelum sudah diminyai oleh Yusuf dan Nikodemus. Kedatangannya itu sebenarnya untuk mengobati luka Yesus karena Yesus belum meninggal.
Menurut kepercayaan umat Kristen, Yesus dibangkitkan tiga hari setelah kematiannya di kayu salib.(Yesus meninggal hari Jum’at, bangkit hari ahad). Jika demikian Yesus dikubur bukan tiga hari lamanya seperti keyakinan umat Kristen tetapi hanya satu hari (hari Sabtu) dua malam (malam Sabtu dan malam Minggu).
Kebangkitan termasuk doktrin utama bagi umat Kristen. Paulus mengatakan “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu, dan kamu masih hidup dalam dosamu”. (1 Kor 15: 17). Lalu benarkah Yesus dibangkitkan ? Yesus sebenarnya tidak meninggal saat di salib, Beliau diselamatkan oleh Allah Swt, lewat murid-muridnya. Disembuhkan dan dikeluarkan dari kubur. Hilangnya Yesus dari kubur itulah yang diyakini oleh pemeluk Kristen sebagai kebangkitan Yesus dari kubur.
Jika Yesus dibangkitkan lalu dalam bentuk apa ia dibangkitkan, dalam bentuh jasmani seperti manusia pada umumnya atau dalam bentuk roh. Pertanyaan ini terjawab berdasarkan ayat dalam Bibel “Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri ditengah-tenga mereka dan berkata kepada mereka : “Damai sejahtera bagi kamu !”. (Luk 24: 26
“Lihatlah tanganku dan kakiku : aku sendiri inilah, rabalah aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kau lihat ada padaku. Sambil berkata berkata demikian, ia memperlihatkan tangan dan kakinya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah ia kepada mereka : “Adakah padamu makanan disini ?”. Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mereka”. (Luk 24: 39 – 43)
Dari penjelasan ayat tersebut di atas dapat diketahui bahwa ketika itu murid-murid Yesus sedang bercakap-cakap tentang kematian Yesus, namun tiba-tiba datang Yesus. Melihat kedatangan Yesus murid-muridnya ketakutan apakah benar orang yang ada dihadapan mereka adalah Yesus atau hantu. Untuk membuktikan hal tersebut lalu Yesus berkata agar murid-muridnya melihat tangan dan kakinya, dan kemudian Yesus memerintahkan agar mereka meraba tubuhnya. Karena murid-murid Yesus masih belum yakin kalau orang yang ada dihadapan mereka adalah Yesus maka untuk pembuktian lebih lanjut Yesus meminta makanan
dan kemudian memakannya dihadapan murid-muridnya tersebut. Secara logika jika Yesus bangkit sebagai Roh (spiritual body) maka dia tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba dan tidak membutuhkan makanan.
Sedangkan apa yang dilakukan oleh Yesus pada ayat tersebut menggambarkan bahwa Yesus pada saat itu bukanlah roh, tetapi manusia. Jika dikatakan Yesus dibangkitkan bukan dalam bentuk roh tetapi manusia, hal ini tentu bertentangan dengan bibel sendiri yaitu “ Sebab mereka tidak dapat mati lagi, mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan”. (Luk 20: 36). Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia yang mati akan dibangkitkan dalam bentuk roh (spiritual body) karena sama seperti malaikat yang tidak butuh makan. Sehingga dengan sendirinya keimanan umat Kristen selama ini tentang kebangkitan Yesus adalah sia-sia karena Yesus tidaklah dibangkitkan.
Disisi lain berita tentang kematian Yesus di kayu salib tidaklah di lihat langsung oleh murid-muridnya, tetapi hanya didengar melalui perkataan-perkatan orang saja. Artinya tidak ada saksi yang lihat dan yang hanya ada saksi dengar, Sebab menurut bibel apabila Yesus mendapat kesulitan maka murid-muridnya lari meninggalkan dia. “Lalu semua murid-murid meninggalkan dia dan melarikan diri” (Matius 26: 56).
Sekarang kembali saya ingin katakan kepada anda maukah anda mengenal dan mengikuti Isa, jika anda ingin dan mau mengikuti Isa maka buanglah salib anda. Dan ikuti ajarannya bahwa dia hanya salah seorang Rasul Allah dan diturunkan hanya kepada bangsa Israel, bahwa Isa bukanlah salah satu dari Tiga Tuhan. Dan Dia bukanlah juru selamat dunia. Ingatlah semua kekuatan yang ada padanya bukanlah miliknya tetapi diberikan kepadanya oleh Allah. Oleh karena itu sembahlah Allah yang telah memberikan kekuatan kepadanya. Jika itu anda lakukan kami muslim tidak perlu menolong anda untuk masuk Islam. (myquran.com)
benarkah Yesus mati di kayu salib ? (2)
Benarkah Isa Al Masih alaihissalam meninggal di kayu salib?
Tepat giliran Isa Al Masih, para serdadu Romawi ternyata tidak mematahkan kakinya, sebab mereka menyangka Isa Al Masih telah mati.
Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,.. (Yohanes 19:32-33)
Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. (Markus 15:44)
Benarkah Isa Al Masih telah mati di kayu salib?. Itulah pertanyaan kritis, yang saat itu sempat membuat Pilatus Gubenur Romawi terheran-heran – lihat Markus 15:44 diatas. Berdasarkan catatan sejarah dan tinjauan sains, umumnya orang yang disalib baru mengalami kematiannya, minimal 2 hari dari saat orang yang bersangkutan disalib.
Kematian pada kayu salib baru bisa terjadi oleh dua hal yaitu :
1. Luka yang terinfeksi. Dipakunya tangan dan kaki pada kayu salib membuka peluang masuknya kuman ke dalam tubuh. Tanpa adanya perlindungan dari antibiotika, kuman tersebut akan berkembang dan menyebar keseluruh tubuh. Proses kematian kerena infeksi seperti ini, secara medis biasanya berlangsung sekitar 2 -3 hari
2. Mati karena kelaparan dan dahaga. Kematian pada kayu salib juga bisa terjadi karena kelaparan dan dahaga. Dengan tidak masuknya bahan makanan yang diperlukan oleh tubuh untuk kehidupan normal, maka hal tersebut akan menyebabkan terganggunya metabolisme tubuh. Karena tidak adanya pasokan makanan, tubuh akan memobilisasi bahan simpanan makanan yang ada dalam tubuh. Bila simpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen yang ada habis, maka protein yang ada dalam otot digunakan sebagai enerji siap pakai. Protein yang ada dalam otot akan berkurang sedemikian rupa, sehingga funsi sel pun akan terganggu dan akan diakhiri dengan kematian. Proses ini biasanya berlangsung 6 – 7 hari.
Dengan tinjauan medis seperti diatas, terbukti bahwa waktu 1 hari (saat itu hari Jum’at) belum cukup untuk membuat Isa Al Masih meninggal di kayu salib.
Disisi lain karena mengira Yesus sudah mati itulah seorang prajurit menikam lambungnya dengan tombak dan segera mengalir darah dan air.
tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yohanes 19:33-34)
Pertanyaan kritis selanjutnya adalah, apakah mungkin orang yang telah mati mengalirkan darah jika terkena tikaman??, bukankah secara medis semua fungsi organ tubuh manusia sudah tidak berfungsi lagi ketika manusia tersebut dinyatakan telah mati???
Keluarnya darah dari organ tubuh yang ditikam secara medis menandakan masih aktifnya aliran darah dalam sistem peredaran orang tersebut dan itu berarti jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh masih berfungsi dengan baik. Masih berfungsinya jantung tersebut, menandakan bahwa seseorang masih hidup!!!
Telaah cermat dan onbyektif terhadap ayat-ayat Injil di atas membuktikan bahwa saat itu Isa Al Masih belum meninggal. Ia hanya pingsan. Dan, kondisi pingsan itulah yang dilihat oleh para serdadu/tentara Romawi sebagai kondisi (ingat, pada kejadian tersebut para serdadu Romawi hanya melihat, bukan memeriksa bahwa Isa Al Masih telah mati).
Penjelasan Al Quran tentang Penyaliban Isa Al Masih
Lolosnya Isa Al Masih dari pematahan kaki yang berarti tidak dilakukan pemastian kematian oleh serdadu Romawi, karena serdadu Romawi tersebut telah yakin bahwa Isa Al Masih telah meninggal adalah merupakan suatu pertolongan Allah SWT kepada hambaNya yang senantiasa menegakkan agamaNya. [u]Pingsannya Isa Al Masih telah dilihat oleh serdadu Romawi sebagai kematian Isa Al Masih.
Kronologis peristiwa yang diungkapkan oleh Injil justru menunjukkan bahwa saat itu Isa Al Masih belum meninggal. Namun kebenaran ini justru ditolak oleh umat Kristiani demi melanggengkan konsep Ketuhanan Yesus yang dirumuskan dalam Konsili Nicea 325 Masehi. Sebab konsep ketuhana itu mengharuskan adanya proses [b]evolusi Ketuhanan Yesus sebagai berikut :penyalian, mati, bangkit (hidup kembali), duduk di surga di sebelah kanan Allah (Markus 16:19), dan menjadi Tuhan.
Al Quran secara tegas dan gamblang menjelaskan bahwa Isa Al Masih tidak mati dibunuh di kayu salib.
DAN KARENA UCAPAN MEREKA : ” SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MEMBUNUH AL MASIH , ISA PUTRA MARYAM , RASUL ALLAH ” , PADAHAL MEREKA TIDAK MEMBUNUHNYA , DAN TIDAK PULA MENYALIBNYA , TETAPI YANG MEREKA BUNUH IALAH ORANG YANG DISERUPAKAN DENGAN ISA BAGI MEREKA . SESUNGGUHNYA ORANG – ORANG YANG BERSELISIH PAHAM TENTANG PEMBUNUHAN ) ISA , BENAR – BENAR DALAM KERAGU – RAGUAN TENTANG YANG DIBUNUH ITU . MEREKA TIDAK MEMPUNYAI KEYAKINAN TENTANG SIAPA YANG DIBUNUH ITU , KECUALI MENGIKUTI PERSANGKAAN BELAKA , MEREKA TIDAK PULA YAKIN BAHWA YANG MEREKA BUNUH ITU ADALAH ISA . TETAPI YANG SEBENARNYA , ALLAH TELAH MENGANGKAT ISA KEPADA – NYA . DAN ADALAH ALLAH MAHA PERKASA LAGI MAHA BIJAKSANA . (An Nisa 157 -158)
Menurut Prof Dr. Hasbullah Bakry, SH dalam bukunya “Isa dalam Al Quran Muhammad dalam Bible” menyatakan penafsirannya tentang QS 4:157 sebagai berikut :
[i]Kalimat “Ma qotaluhu wama sholabuhu” yang berarti : Meraka tidak secara khusus membunuhnya dan tidak pula menyalibnya haruslah diartikan sebagai penguat kaqlimat satu dengan yang lain. Ma qotaluhu artinya [u]mereka tidak membunuh Isa dengan jalan apa saja. Ma sholabuhu mereka juga tidak membunuhnya dengan penyaliban.
Kalimat “Bar rafa ahullaahu ilaihi” yang berarti “Allah telah mengangkat Isa kepadaNya haruslah diartikan bahwa Allah tidak meninggalkan siapapun yang berjuang demi kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha baik seorang utusanNya.
Umat muslim harus yakin bahwa Isa Al Masih diselamatkan oleh Allah dari musuh-musuhnya. Bagaimana cara penyelamatannya, itu merupakan hak prerogative Allah Sang Khalik, Sang Maha Pencipta. Melalui ayat mengangkat Isa Al MAsih ke sisiNya, kiranya setiap manusia sadar bahwa betapapun kuat dan kuasa suatu kekuatan namun kemenangan pada akhirnya pasti diraih oleh kebenaran. Allah SWT tidak akan membiarkan hambaNya yang senantiasa menjalankan perintah dan ajaranNya – apalagi membiarkan dan menyia-nyiakan seorang rasulNya
Daftar Pustaka
1. Injil, Lembaga Alkitab Indonesia 2002
2. Bibel, Al-Quran dan Sains Modern, Maurice Bucaille 1994
3. Isa dalam Al-Quran Muhammad dalam Bibel, Prof Dr. Bakry Hasbullah SH, 1968
4. Tafsir Al Azhar, Hamka, 1988
5. Tafsir Al Misbah, 2000
Benarkah Yesus disalib dan meninggal pada kayu salib?
Benarkah Isa Al Masih alaihissalam disalib dan meninggal pada kayu salib?
Pertanyaan tersebut menarik untuk didiskusikan karena persoalan penyaliban akan membawa implikasi panjang pada aqidah umat. Sebab seperti kita ketahui, doktrin agama Kristen menegaskan bahwa Isa Al Masih yang oleh kalangan agama Kristen disebut dengan Yesus, meninggal di kayu salib.
Yang dimaksud dengan implikasi panjang adalah, karena konsep penyaliban tersebut menjadi tonggak aqidah umat Krsiten tentang kenaikkan dan kebangkitan Yesus, yang pada akhirnya mengarah pada pengakuan akan ketuhana Yesus.
Nah Isa Al Masih, menurut fakta sejarah, memang mendapat hukuman salib. Hukuman itu diterimanya karena beliau dianggap menghujat Allah dengan mengatakan bahwa dirinya adalah anak Allah. (Matius 26:63-65)
Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Tetapi ketika diajukan ke wali negeri, Isa Al Masih dituduh makar, sehingga Pilatus bertanya Engkau raja orang Yahudi? (Matius 27:11-20
Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.
Marilah kita telaah sejarah itu secara obyektif dan komprehensif. Dalam Injil dijelaskan sebagai berikut : (Yohanes 19:14) “Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas….“.
Istilah Paskah sendiri berasal dari bahasa Ibrani, dari kata “pesah“ yang artinya : “melewati“. Upacara ini seperti dijelaskan dalam Perjanjian Lama sebenarnya dilaksanakan sebagai peringatan pembebasan bangsa Israel dari bangsa Mesir (Keluaran 12:23-28) :
Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.
Sedang dalam Perjanjian Baru, Yesuslah yang disebut-sebut sebagai “anak domba Paskah“ (I Korintus 5:7) :
“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”
Dengan demikian menurut keyakinan Kristen sendiri Isa Al Masih harus disalib untuk menebus dosa umatnya sebagai akibat dari dosa yang diwariskan oleh Adam dan Hawa. Dengan penyaliban tersebut, maka manusia terbebas dari siksaan akibat dosa warisan tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya gereja menyatakan bahwa Paskah adalah hari Kebangkitan Yesus.
Dalam persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas, Pilatus selaku gubernur Romawi, memutuskan untuk menyerahkan Isa Al Masih kepada orang-orang Yahudi, agar disalib dibukit Golgota (Bukit Tengkorak). Maka Isa Al Masih dipaksa memanggul salib ke Bukit Golgota.
Setelah sampai di Bukit Golgota (Matius 27:46) “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Hari itu adalah hari persiapan Paskah dan besoknya adalah hari Sabat (Sabtu). Bagi umat Yahudi, hari Sabat adalah hari ketujuh, hari yang suci[/i dan Tuhan berhenti bekerja pada hari tersebut, sehingga orang Yahudi dilarang bekerja apapun [i]termasuk penyaliban (Keluaran 20:8-11), dan orang yang bekerja pada hari itu harus dihukum (Keluaran 31:12-14)
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.
Pada saat itu, waktu yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaan penyaliban, sebelum memasuki hari Sabat, tinggal 2.5 – 3 jam (ingat, bahwa pergantian waktu menurut tradisi Yahudi adalah terbenamnya Matahari, jadi bukan pada jam 00:00)
Terdesak oleh waktu, dan untuk mempercepat proses kematian orang-orang yang disalib tersebut orang-orang Yahudi ingin segera memastikan kematian dengan cara mematahkan kaki, yaitu meremukkkan kaki dengan batas bagian tempurung kaki kebawah.
Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib–sebab Sabat itu adalah hari yang besar–maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. (Yohanes 19:31)
bersambung ke “benarkah yesus meninggal di kayu salib ?”
source :
http://islammenjawab.multiply.com/journal/item/110/Kajian_Kristologi_Menelaah_Kisah_Penyaliban_Al_Masih_AS_bagian_1_
leave a comment